Skip to main content

30 Days Song Challenge - INTRO

Hai my non-existent readers! 

Tanpa perlu mempermanis keadaan dan kalo boleh sedikit curcol, sebulan++ terakhir mental state gue sangatlah buruk (if not THE worst). Tahun 2019 adalah tahun pertama akhirnya bisa ngerasain adulthood dengan mental stability yang jauuuuh lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya, terus pas banget 2020 dateng dengan segala perpandemian ini dan pelan-pelan jatuh lagi deh hahaha. Jadi dengan mental resilience yang sangat tipis plus terjadinya sebuah unanticipated dramatic event, masuk lah kita ke dalam dark side.

Salah satu pertanyaan terbesar di masa-masa dark period ini adalah: what keeps me going? 

Tahun kemarin masih bisa embracing konsep full WFH dan full di rumah, banyak banget mendalami hal-hal baru yang menyenangkan --perkopian (yang sangat banyak room to explore), mencoba semua non-dairy milk options, baking, Chloe Ting, indoor plants, renov kamar, upgrade sound equipments, ambil career-enhancing courses, interview kerjaan sana-sini, started and ended a new relationship, dan bahkan akhirnya ikut kelas Digital Music Producing (yang sangat life changing!). Terus di 2021 pelan-pelan mulai kehabisan ide kegiatan-kegiatan untuk coping dan mulai merasa stuck sama hobi-hobi yang sudah ada, yang sebenernya easily solved dengan mendalami Digital Music Producing tapi ga mampu beli license Ableton dan MIDI controller :( Jadilah hello darkness my old friend: kerja ogah-ogahan, mood swings, dan setiap bangun tidur langsung kecewa karena hidup segan mati tak mau. HAHA DARK POKOKNYA.

Karena sudah di-assess kalo masalah terbesarnya adalah: gue nih idup buat apaansih??? Tools untuk copingnya adalah sesimpel setting a life purpose. Berhubung "life purpose" terdengar terlalu overwhelming, kayaknya lebih mudah buat perencanaan jangka pendek aja dulu gitu. Tisya Panik Miranda langsung lah tanya ke banyak orang tentang ide-ide kegiatan di kala pandemi, tapi belum ada yang berhasil mengetuk hati gue / memiliki sustainability yang lebih dari satu hari. 

Kemarin sempet diidein Rana buat main puzzle, dan belilah gue puzzle 1000pcs, dengan pattern yang sangat abstrak karena mikir the harder it is the longer it will lasts --tapi malah gak doable hahahahaha gagal total. Terus pagi ini rewel nanya-nanya Hasbi soal belajar bass dari nol karena lagi sering dengerin Thundercat dan bercita-cita sekeren beliau (Thundercat bukan Hasbi), tapi ternyata harga bass mahal (yaiyalah) dan berhubung track record gue untuk mempelajari sesuatu sangat buruk jadi merasa ga pantas keluar berjuta-juta beli bass.


puzzle wayang abstrak 1000pcs yang dengan gegabah kubeli :)

Dalam keputusasaan, tiba-tiba muncul dorongan buat rutin nulis lagi. Awalnya urge ini gue deny mentah-mentah karena akhir-akhir ini setiap nyoba nulis pasti ujung-ujungnya nulis hal termehek-mehek terus. Tiba-tiba dapet wangsit lagi keinget Rana pernah ikut suatu 30 days song challenge, dan setelah berguru sama Rana, WOW sepertinya ini lah jawaban dari semua keresahanku!!! Membantu committing, membantu memiliki daily purpose, memiliki kedua elemen kesukaan gue pula -menulis dan meromantisasi suatu lagu. Definitely my kind of challenge. Yeay!

Jadi begitulah origin mengikuti 30 Days Writing Challenge - Song edition ini. Rulenya cuma dua: artisnya gaboleh ngulang, dan harus dipost sebelum 00.00 setiap harinya. Dimulai dari besok.

Semoga istiqomah yah!

Comments

Popular posts from this blog

Album Reviews [Combo Pack]

I'm back on the deck, hurrah! I'm so missing myself writing a proper readable post, the less-curhat less-sok-poetic post, even 'tho I'm not sure people are even into my music shits...but it feels good to be back on the deck!(?) These are my reviews of not-so-new-released albums that I listen to (not so) recently, ujian and college stuffs really took that much of my time-_- I wish I can come out with fresh recommendations but this is just all I have, here it goes, enjoy! The Temper Trap -  Acoustic Sessions EP Sepertinya The Temper Trap berhasil menemukan formula untuk menelurkan album yang flawless dan sangat pas: make it an EP (nggak sesimpel single dan nggak sepanjang LP) consists of six acoustic version of their best songs, here's when things couldn't go wrong. Sewaktu jaman intensif Inten, kerjaan gue kalo di rumah emang suka curi-curi waktu buat hal nggak penting yang bahkan di waktu luang aja nggak pernah gue lakuin, kayak randomly buka iTunes dan me...

Baby Blue - King Krule (Day 1 - Song with color on the title)

Meskipun album 6 Feet Beneath The Moon udah di- release dari tahun 2013, di hidup gue Baby Blue malah jadi soundtrack jaman-jaman ngerjain TA, lebih tepatnya setelah geng wisuda April udah pada cabut.   Bulan-bulan Maret-Juni 2018 adalah masa transisi gue mencari teman buat ngerjain TA bareng karena teman-teman yang biasa coffee shop hopping buat ngerjain TA bareng lulusnya April semua hiks. Di masa-masa itu lah diperkenalkan Patih sama the luxury of berproduktif di Grind Joe ( coffee shop di bawah hotel Moxy): sepi, kursi ergonomis, pencahayaan oke banget, kopi enak, adem (kadang terlalu dingin), internet decent , dan yang terpenting playlist -nya bagus! Playlist bagus yang dimaksud adalah lagu-lagu chill lo-fi hiphop yang sangatlah hyped pada masa tersebut; Mac Ayres, FKG, Honne, Tom Misch dkk - surprisingly emang cocok banget buat backsound produktif. Kemudian karena playlist di Grind Joe lama-lama terasa terlalu berulang, gue berinisiatif membuat extended playlist -nya...

There Was No Funeral

June 25th 2024 They took the greatest love of my life away from me, but there was no funeral. They bathed and cleaned her corpse, and all I could think about was if they had took her lash extensions out. They buried her, but I stayed in the car. People cried, but no one hugged me, all that I had was my hand being held by my brother as we drove behind the hearse, Neil Young’s Harvest Moon was playing. I was already isolated for 2 weeks and thought that I would be rewarded by her embrace once it was all over. But there was none of it, it was pain and more pain and more pain. Only after 2 years I could finally cried it all out in somebody’s embrace, didn’t even realized how much I needed to let it all out —how badly I needed to be embraced. Because by the first year, the longing had eaten my insides little by little until there was almost nothing left of me. I don’t want to hold on to this pain forever, even if this pain is the only way I can keep my love for her alive. Because I’m done h...
I never concidered about dying this much until today. And no, this is not a suicidal note. Well not exactly... I don't know but the pain of living is just so unbearable. I wanna go back to the non-existance. I give people pain so much I let my parents down too much now. This is the point where I don't even know if my precense would do anyone any good, and I don't even know which is better to the world: the pain from me leaving or the  trouble I made.
You called me just so you can take out your anger out of your chest. And it still hurts, the fact that I couldn’t ease your anger, I could never did. With all the hatred and resentment in your eyes, it finally hits me, really really hard, realizing that nobody could ever comfort you -not even me, not even once. It hurts much more.

This, wasn't It

"Kalo gitu nggak ada lagi yang perlu dibicarain." Bengong. Asli. Kalo kata-kata bisa membunuh, mungin sekarang gue udah tinggal nama. Oke lebay... Mungkin paling banter sekarang gue cuma butuh transfursi darah. Oke tetep lebay. Intinya, kalimat yang terlontar dingin itu sukses bikin gue lemes, kuping panas, jantung minta lompat keluar, dan otak meronta. Gue bukan abis berantem sama cowok gue since I don't have one wakaka, atau berantem sama bokap nyokap. Yang abis gue lakuin adalah wawancara, seperti yang gue bilang di postingan sebelumnya. Hari ini di mulai dengan baik. Sarapan oatmeal pake pisang, wearing my fave shirt, fave watch, fave bracelet, dan Speed of Sound muncul di radio pagi ini. Gue nunggu giliran selama dua jam lebih dengan kalem dan sedikit nervous. Tapi pas klimaks...wawancara selesai gitu aja setelah si pewawancara denger gue tanggal 25-28 liburan.... Gue tau gue cengeng, satu sekolah juga tau. Tapi udah lama gue nggak ngerasain sekecewa ini dan s...