Skip to main content

Burning Rope - Genesis (Day 4 - Song that reminds you of someone)

Growing up, orang tua gue sering menjejali gue dengan lagu-lagu tahun 70-80an. Mereka juga yang waktu gue kecil ngajarin bikin mixtape —yang selanjutnya bikin gue obsessed sama mix CD sampe udah kuliah pun, dan sekarang obsessed sama playlist hahaha. Dari banyaknya musik-musik yang Bokap perkenalkan ke gue, tetep aja kalau ditanya musik favorit doi apa, dalam sepersekian detik tanpa berpikir pasti bakal doi jawab: Genesis. 

Waktu gue SMP, setelah setahun pertama naik jemputan, pas kelas 8 tiap pagi yang nganter Bokap. Di mobil, beliau selalu pasang Genesis dari berbagai mp3 bajakan (ya gitu kalo boomers mah hardcore fan tapi yang didenger juga bajakan), tapi album yang paling sering dipasang And Then There Were Three -kadang rebutan sama gue mau pasang CD Viva La Vida (kalo koleksi CD gue tentunya asli semua tolong jangan diragukan). Nah Bokap nih kalo Burning Rope udah kepasang, khidmat banget-banget dengerinnya sembari nyanyi penuh penghayatan dengan suara doi yang yaAllah fales sefales-falesnya (insyaAllah ga durhaka karena stating the fact). Di sela-sela kekhidmatan tersebut doi tidak lupa akan memberi lecture tentang kenapa album ini judulnya And Then There Were Three dan seluk beluk perpisahan Genesis dengan OG membersnya.


Tanpa teman-teman gue ketahui di kala itu, gue juga ngefans berat sama Genesis. Pernah juga gue diajak Bokap dan Nyokap nonton Genesis night di suatu bar di Hotel Sultan, waktu itu band yang main Cockpit (band yang khususon bawainnya lagu-lagu Genesis doang). Bokap nonton bareng geng SMA-nya (fun fact nama gengnya Alcoholic Spirit, bayangkan betapa labilnya bapak gue waktu masih remaja), dan gue bisa jamin satu bar itu isinya om-om dan tante-tante semua, gue doang kali yang anak di bawah umur. Tapi no regret karena itu salah satu pengalaman nonton konser paling menyenangkan buat gue, apalagi mengingat kayaknya ga akan pernah nonton Genesis live seumur idup. Makasih Deda.


Kesentimentalan (ada ga sih bahasa kesentimentalan?) gue terhadap lagu ini dibuktikan waktu kuliah aka pertama kalinya hidup jauh dari orang tua. Masih inget banget kejadiannya sore-sore hampir maghrib gitu, lagi macet di tamansari deket Annex. Terus di mobil tiba-tiba kepasang lagu ini, awalnya gue menyambut lagunya dengan meriah —mantan gue yang sudah diakulturasi buat suka sama Genesis juga menyambut lagu tersebut dengan sukacita. Pas lagi nyanyi dengan heboh, tiba-tiba airmata gue menggenang aja gitu terus nangis sesenggukan (sambil tetep nyanyi). Meskipun gue emang cengeng, tapi nyanyi Burning Rope sambil nangis bombay tetap pemandangan yang aneh dan mengundang pertanyaan, “LAH jun kenapa?!?!??” Terus gue jawab “kangen dedaaaAaaa” dan langsung nelpon beliau. Tentunya ditanggapi dengan awkward ala bapak-bapak Sumatra dan sayup-sayup terdengar Nyokap marah-marah “heh apa-apaan ingetnya sama bapak lu doang????” Seluruh drama tersebut terjadinya selama lagunya masih berlangsung berhubung emang lumayan panjang ya kak lagunya.


Huuuf lovely memory, Bokap alhamdulillah masih ada dan insyaAllah sehat wal afiat sekarang, tapi tetep paling ngga bisa deh denger Burning Rope tanpa merasa melankolis. Kalo lagi kangen rumah udah anti banget dengerin Genesis karena takut jadi makin kangen, apalagi mental w total mental tempe gini. Ini ngetiknya aja pengen nangis lagi padahal beliau lagi hepi-hepi aja tuh di kamarnya nonton tipi. Ah pokoknya sayang banget deh sama Bapake.


Album And Then There Were Three juga salah satu koleksi LP gue di awal banget, waktu koleksi gue masih +/- 5 biji. Masih inget betapa excited-nya waktu nemu LP itu pas lagi digging bersama bos Aldo di Pasar Santa, salah satu best purchase sampe detik ini kayaknya. Gak sabar melengserkan LP tersebut ke anak gue nantinya, semoga doi suka juga sama album favorit kakeknya. Tuhkan ngomongin non-existent future child aja udah pengen nangis lagi. Ga bener emang nih attachment w sama Genesis.


Mari doakan semoga Deda dan Moma sehat-sehat terus supaya my future child bisa denger mereka cuap-cuap tentang Genesis dan kisah highschool sweetheart mereka (and for tons of other wedding anniversaries yang ditandai dengan poorly-edited slideshow foto mesra dengan backsound Follow You, Follow Me buatan Nyokap).


Comments

Popular posts from this blog

UTS Special: Comforting Sounds Mixtape

Besok uts PRD dan sempet-sempetnya posting ginian meheheh gara-gara udah cabut demi belajar prd+mat tadi siang supaya malemnya bisa hearing, terus hearingnya di cancel *ba dum tss*. So let's just make it quick, and these are the list of songs you wish to hear in this most hectic period of the semester, enjoy! Happy (Pharrell Williams) Sulit untuk nggak senyum atau minimal nodding your head setiap kali denger lagu ini, yang selalu ngingetin kita untuk merasa senang ditambah campaign 24hoursofhappiness.com yang uber-awesome! Clap along if you know what happiness is to you :):) Með Suð Í Eyrum (Sigur Ros) Biarpun Sigur Ros udah ngeluarin dua album setelah album ini (yang bau-bau dark semua emang), sampai kapan pun lagu ini dan Gobbledigook bakal selalu jadi Sigur Ros' most cheerful songs. This song will always be your ice cream under the too shiny sun. This Too Shall Pass (OK Go) Pertemuan gue dengan lagu ini adalah waktu lagi ke mcd hampir tengah malem setelah ha...

Is this it?

Have you ever did a real bad thing in your life and live with a constant guilt afterwards, that you thought every single bad thing that keeps happening to you is just the way of universe punishing you -and that you deserve every tiny part of the pain? I can't really recall when was the first time I start living with this horrible mindset weighing me, but it does took me months of repetitive small unnecessary breakdowns to finally losing it last night and cry the shit out over The Strokes' Is This It -alone in my hotel room, thinking I am so done with universe punishing me and shit. I snapped last night and when I was finally too tired to continue crying, I thought to myself that maybe universe was actually never that evil, maybe I did this to myself, maybe the things that break me are just a product of my own belief -believing that I need to suffer from every cosmic surprise that went south from my own expectation and immediately perceiving it as another form of life punishme...