Skip to main content

Posts

Yang Menunggu

"Kemarau pasti datang" Ia kedinginan, menggigil karena basah kuyup Juni hampir selesai Ia kedinginan, bersamaan dengan cabai layu yang gagal panen Sapardi bilang hujan yang turun bulan Juni hanya hujan rindu. Tapi bukan lagi rindu yang dibawa hujan deras yang turun dengan angkuh. Yang ada cahaya rindu kemarau, yang menyelipkan secercah sinar rindunya lewat sela-sela awan mendung Ia menyimpan harap, tiap kali cahaya itu berhasil terserap ke tulangnya yang kaku "Kemarau pasti datang." Ia berkata di sela-sela giginya yang bergemeratak Kemarau tidak mau ditunggu, tahun ini kemarau akan ingkar janji Ia menunggu, tidak risau badannya digerogoti hujan; yang ia butuhkan cuma menunggu Serta keadilan yang diputuskan oleh waktu Ia percaya setia akan menghadiahinya hangat tanpa akhir Kemarau bersikeras, tahun ini ia harus ingkar Juga tahun berikutnya Ketika waktunya penghujan -tanpa kemarau kunjung hadir Ia tidak akan marah Rindu dan harapnya habis ...
Siang ini saya membuang memori saya keluar jendela. Dibalik tembok kamar saya ini tidak ada tempat sampah maupun pemulung yang mau repot-repot membawa pergi, menanggung beban yang saya harap saya sendiri mampu memikul. Jadi begitulah, dibalik jendela berukuran sedang yang jernih ini, saya masih bisa melihat serpihan masa lalu maupun angan-angan yang saya bangun setengah mati itu, tergeletak begitu saja, menjadikannya memori-memori baru tentang memori itu sendiri. Jendela ini seakan seperti kaca yang membatasi objek museum, bedanya memori itu entah kenapa tidak mau berjejer rapi dan memilih berjubel, seakan tidak mau dipisahkan satu sama lainnya. Saya bisa saja menutup jendela saya dengan tirai, tapi lagi, saya akan tetap tau mereka menunggui saya di sana. Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

Anthozoa, Robot, dan Korelasi Maksa

Heavy, heavy rain outside. Saya habis bales dendam tidur siang 4 jam, dan setelah lama-lama bengong sambil dengerin Bands Of Horses - The Funeral berulang-ulang akhirnya memutuskan lari ke sini, too much thoughts. Semua titik balik maupun titik awal hidup saya akan terjadi dua-tiga bulan dari sekarang, dan seperti seorang pecundang, tiap hari saya ketakutan. Malu-maluin. I've set my goals, okay, in fact there's five plans (plan A-E) I've written down, tapi peluangnya memang cuma sampe SIMAK UI. Semua orang bilang, percaya sama diri sendiri, tapi emang itu cukup? Kadang saya takut sebanyak apapun rencana itu adalah rencana-rencana yang salah, saya tau pada akhirnya Tuhan yang menentukan jalan hidup saya, tapi ketidaktauan tentang dimana diri saya nantinya dua bulan dari sekarang aja bikin (agak) frustrasi. Sebenernya sekarang bukannya saya mau ngeluh lagi tentang betapa susahnya tryout-tryout Inten dan gimana nama saya nggak kunjung naik ke seenggaknya tiga lembar pertama, y...

[Gig Review] Sigur Ros World Tour - Live in Jakarta

Peeps, sejujurnya saya nggak pernah tau saya bakal nulis postingan berjudul ini juga pada akhirnya. I've been a die hard Sigur Ros fan since I can remember, well actually it started in around 8th or 9th grade hahaha. Setelah berurai air mata dua hari gara-gara nggak dibolehin ngejar mereka ke Singapur bulan November kemaren dan sakit hati yang berkepanjangan, akhirnya kesabaran gue terbayar juga, they're fucking coming to Jakarta! KYA! MASIH PENGEN TERIAK. Jadi, kalo nggak salah nih, sejak Coachella kemaren Sigur Ros istirahat bentar kemudian mulai asian world tournya di Jakarta hihihi (gatau kenapa gue kasih endingan hihihi). Setelah TO TPA dan Kemampuan Dasar yang gue kerjakan dengan setengah kefokusan, akhirnya gue berangkat menuju syurgahh. Di Istora jam 5an gitu udah rame berat, emang seharusnya udah open gate dari jam 5 sih, cuma si Jonsi keasikan rehearse sampe jam 6-_- jam 7.30 baru open gate akhirnya. Dari jam 5an itu juga kami udah anteng ngantri sambil sayup-sayup k...

Coffee Shop

[Sorry for the grammar errors and everything, I don't do great in english I know, yet this flashfiction wud be too cheesy to be written in bahasa] "The coffee shop's being torn down." So my friend told me one afternoon. It tickled my heart a little, I don't even know why, maybe because I'm scared that the memories that we built back then are vanished as well. I've never told you this -even 'tho I could have, because I've never so sure of how that place meant for you, and how silly I might sound like. But you do remember it, don't you? A little coffee shop we used to hang...ngg once. The music wasn't so good, the coffee tasted too creamy, and the lonely place filled with only both of us. Ah, and don't forget the old barista, who happened to be the waitress and the cashier guy too, he seemed like a nice thoughtful guy don't you think? I fell in love with that place, to be honest, and don't ask why because I haven't figu...

Svo Hljótt (So Quiet)

Bahasa kesunyian, interpretasi rasa menjadi bahasa tanpa rambatan frekuensi gelombang suara. Meskipun hingar bingar dan kegegapgempitaan kota yang setia melatari kita, tapi lewat itu perasaan kita beresonansi, lewat kesederhanaan yang ditimbulkan sepi. Karena tak perlu kata, ketika kita saling menatap, dan ada janji yang mengikat dari percikan cahaya matamu. Tak usah juga lampu warna-warni yang menyirami jiwa kita dengan segudang omong kosong tentang masa depan dan kefuturistikan yang banal, ketika cahaya-cahaya monokromatik menyelimuti kita dengan kesederhanaan dan kedamaian tanpa sedu-sedan. Kamu bernyanyi pada satu purnama, membawakan kesunyian dengan begitu khidmat, yang bukannya sepi yang mencekik -tapi sepi yang tertuang harapan, yang seakan berbisik kepada hati. Kemudian ketika pada akhirnya nanti kita terjebak pada gonggongan dan ratapan yang disuguhkan realita, kamu berpesan, agar selalu mendengarkan pesan yang dilantunkan kesunyian. (Svo Hljótt adalah judul lagu Si...

Di Puncak Bukit yang Berduri

Udah sembilan hari tepatnya sejak hari terakhir gue pake seragam SMA, seharusnya kalimat ini bisa lebih dramatis dengan kata-kata "terakhir pake putih abu-abu" tapi sayangnya seragam terakhir yang gue pake adalah seragam batik biru dan rok putih -oke gapenting. Satu-satunya alasan gue belom meracau tentang nostalgia masa SMA setelah hari terakhir sekolah adalah karena, ya, it's too melancholic, too precious, too complicated to be turned into words. Damn. Oh, dan tentunya perasaan itu udah mulai reda setelah puncaknya adalah h-3 UN dan kemudian mesti fokus sama UN dan ljk abalannya jadi kesentimentalan yang meradang di sela-sela belajar tengah malam itu berangsur-angsur hilang. Biarpun gitu, kadang-kadang masih suka bengong dan bertanya-tanya, semuanya beneran udah kelar? (Bukan, bukan, kalo belajar, tryout, dan tes, jelas belum selesai). Waktu, sama sekali bukan hal yang kita punya secara pribadi, atau sesuatu yang dosis dan kecepatannya bisa kita tentukan seenak jidat....