Skip to main content

Anthozoa, Robot, dan Korelasi Maksa

Heavy, heavy rain outside. Saya habis bales dendam tidur siang 4 jam, dan setelah lama-lama bengong sambil dengerin Bands Of Horses - The Funeral berulang-ulang akhirnya memutuskan lari ke sini, too much thoughts.

Semua titik balik maupun titik awal hidup saya akan terjadi dua-tiga bulan dari sekarang, dan seperti seorang pecundang, tiap hari saya ketakutan. Malu-maluin. I've set my goals, okay, in fact there's five plans (plan A-E) I've written down, tapi peluangnya memang cuma sampe SIMAK UI. Semua orang bilang, percaya sama diri sendiri, tapi emang itu cukup? Kadang saya takut sebanyak apapun rencana itu adalah rencana-rencana yang salah, saya tau pada akhirnya Tuhan yang menentukan jalan hidup saya, tapi ketidaktauan tentang dimana diri saya nantinya dua bulan dari sekarang aja bikin (agak) frustrasi.

Sebenernya sekarang bukannya saya mau ngeluh lagi tentang betapa susahnya tryout-tryout Inten dan gimana nama saya nggak kunjung naik ke seenggaknya tiga lembar pertama, yang menghantui saya akhir-akhir ini semua hal yang bersifat sekarang dan masa depan. Semua dalam artian ya semua; PTN, college life, love life, friends stuffs, future job, mimpi-mimpi saya -semua. Semua yang terjadi dan akan terjadi dan bergantung sama usaha saya dalam menyelesaikan skenario yang udah ditulis sama Yang Maha Esa. Lo tau gak sih titik dimana lo terus jalan, tapi lo gatau jalannya bakal berenti dimana, lo punya tujuan tapi ngga ada yang konkret.

Rutinitas saya ya begitu, basic banget, dengan 10-12 jam per hari dipake di Inten dan berjam-jam setelahnya masih dipake buat belajar di rumah. Bukannya capek, tapi kadang-kadang saya ngerasa kayak robot. Waktu luang ada, tapi lagi, waktu luang itu udah lama nggak terisi sama apa yang membuat saya lebih hidup. Saya punya harapan -kalau bukan disebut cita-cita, seperti temen-temen saya; masuk ITB, kerja di BP, banyak duit, nikah. Tapi saya selalu tau kalau hidup bukan sekedar masuk ptn favorit, dapet kerjaan bagus, lalu hidup mapan, karena kalo gitu bagi saya sama aja kayak robot. Hidup seharusnya lebih dari itu, itu yang daritadi saya renungi, dan belum dapet konklusinya.

Some says to just go with the flow. Saya kurang setuju, karena kalau saya dianalogikan sebagai ikan seharusnya saya jadi ikan yang jago berenang (ye masa ikan jago main gaple). Terbawa arus cuma bisa diterapkan ke ikan-ikan yang mati, atau kalau bukan, ya anemon laut kali, bahkan anemon laut aja melekat sama dasar laut jadi saya ngga yakin-yakin amat mereka bisa go with the flow apa ngga-_-. Tapi gabisa dipungkiri memang rasanya begitu akhir-akhir ini: saya kayak anemon laut, ini juga karena saya enggan dibilang ikan mati. Tiap sholat saya berdoa supaya saya akhirnya nemu titik terang, religius abis kan, maksudnya supaya saya nemu pencapaian-pencapaian yang akhirnya bisa mengisi jiwa saya.

Beruntunglah kalian yang tiap hari terlalu sibuk buat merenung ngalor-ngidul kayak gini, beruntung kalo kalian nyaman ada di hidup kalian dan tetap selalu punya tujuan-tujuan konkret tiap bangun tidur. Saya iri sama orang-orang yang full of life, full of love, atau keduanya, hahaha! Ada loh, orang yang dari cara ngomongnya keliatan mereka full of life, sotoy sih tapi saya pernah kenal beberapa, dan suatu saat saya akan jadi seperti itu.

Tadinya saya nulis kayak gini buat dapet pencerahan, soalnya biasanya setiap saya bingung dan saya tulis pada akhirnya saya harus membuat konklusi, sayangnya kali ini gagal-_- Tetep ga berkonklusi. In the meantime saya akan jadi si robot anemon laut yang kalo ngga ngerjain soal ya main dots, sambil harap-harap cemas sampai nama saya nangkring di Universitas manapun yang terbaik buat saya dan mencari-cari definisi "full of life" itu.
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

Comments

Popular posts from this blog

Album Reviews [Combo Pack]

I'm back on the deck, hurrah! I'm so missing myself writing a proper readable post, the less-curhat less-sok-poetic post, even 'tho I'm not sure people are even into my music shits...but it feels good to be back on the deck!(?) These are my reviews of not-so-new-released albums that I listen to (not so) recently, ujian and college stuffs really took that much of my time-_- I wish I can come out with fresh recommendations but this is just all I have, here it goes, enjoy! The Temper Trap -  Acoustic Sessions EP Sepertinya The Temper Trap berhasil menemukan formula untuk menelurkan album yang flawless dan sangat pas: make it an EP (nggak sesimpel single dan nggak sepanjang LP) consists of six acoustic version of their best songs, here's when things couldn't go wrong. Sewaktu jaman intensif Inten, kerjaan gue kalo di rumah emang suka curi-curi waktu buat hal nggak penting yang bahkan di waktu luang aja nggak pernah gue lakuin, kayak randomly buka iTunes dan me...

Baby Blue - King Krule (Day 1 - Song with color on the title)

Meskipun album 6 Feet Beneath The Moon udah di- release dari tahun 2013, di hidup gue Baby Blue malah jadi soundtrack jaman-jaman ngerjain TA, lebih tepatnya setelah geng wisuda April udah pada cabut.   Bulan-bulan Maret-Juni 2018 adalah masa transisi gue mencari teman buat ngerjain TA bareng karena teman-teman yang biasa coffee shop hopping buat ngerjain TA bareng lulusnya April semua hiks. Di masa-masa itu lah diperkenalkan Patih sama the luxury of berproduktif di Grind Joe ( coffee shop di bawah hotel Moxy): sepi, kursi ergonomis, pencahayaan oke banget, kopi enak, adem (kadang terlalu dingin), internet decent , dan yang terpenting playlist -nya bagus! Playlist bagus yang dimaksud adalah lagu-lagu chill lo-fi hiphop yang sangatlah hyped pada masa tersebut; Mac Ayres, FKG, Honne, Tom Misch dkk - surprisingly emang cocok banget buat backsound produktif. Kemudian karena playlist di Grind Joe lama-lama terasa terlalu berulang, gue berinisiatif membuat extended playlist -nya...

There Was No Funeral

June 25th 2024 They took the greatest love of my life away from me, but there was no funeral. They bathed and cleaned her corpse, and all I could think about was if they had took her lash extensions out. They buried her, but I stayed in the car. People cried, but no one hugged me, all that I had was my hand being held by my brother as we drove behind the hearse, Neil Young’s Harvest Moon was playing. I was already isolated for 2 weeks and thought that I would be rewarded by her embrace once it was all over. But there was none of it, it was pain and more pain and more pain. Only after 2 years I could finally cried it all out in somebody’s embrace, didn’t even realized how much I needed to let it all out —how badly I needed to be embraced. Because by the first year, the longing had eaten my insides little by little until there was almost nothing left of me. I don’t want to hold on to this pain forever, even if this pain is the only way I can keep my love for her alive. Because I’m done h...
I never concidered about dying this much until today. And no, this is not a suicidal note. Well not exactly... I don't know but the pain of living is just so unbearable. I wanna go back to the non-existance. I give people pain so much I let my parents down too much now. This is the point where I don't even know if my precense would do anyone any good, and I don't even know which is better to the world: the pain from me leaving or the  trouble I made.
You called me just so you can take out your anger out of your chest. And it still hurts, the fact that I couldn’t ease your anger, I could never did. With all the hatred and resentment in your eyes, it finally hits me, really really hard, realizing that nobody could ever comfort you -not even me, not even once. It hurts much more.

This, wasn't It

"Kalo gitu nggak ada lagi yang perlu dibicarain." Bengong. Asli. Kalo kata-kata bisa membunuh, mungin sekarang gue udah tinggal nama. Oke lebay... Mungkin paling banter sekarang gue cuma butuh transfursi darah. Oke tetep lebay. Intinya, kalimat yang terlontar dingin itu sukses bikin gue lemes, kuping panas, jantung minta lompat keluar, dan otak meronta. Gue bukan abis berantem sama cowok gue since I don't have one wakaka, atau berantem sama bokap nyokap. Yang abis gue lakuin adalah wawancara, seperti yang gue bilang di postingan sebelumnya. Hari ini di mulai dengan baik. Sarapan oatmeal pake pisang, wearing my fave shirt, fave watch, fave bracelet, dan Speed of Sound muncul di radio pagi ini. Gue nunggu giliran selama dua jam lebih dengan kalem dan sedikit nervous. Tapi pas klimaks...wawancara selesai gitu aja setelah si pewawancara denger gue tanggal 25-28 liburan.... Gue tau gue cengeng, satu sekolah juga tau. Tapi udah lama gue nggak ngerasain sekecewa ini dan s...