Skip to main content

Sedikit Tentang Patah Hati

Dia menyalakan lagi rokoknya, entah rokok keberapa yang telah ia hisap setelah kami duduk di tempat ini. Matanya lelah. dan penuh kebingungan, serta tersirat juga kesedihan di sana pun sesekali ia tersenyum (yang tetap saja getir) ditengah ceritanya yang menggebu.

Aku menenggak kopiku, lalu sesekali mengangguk, dan terus mengulangi kedua hal itu hingga dia akhirnya bertanya, "Gue harus apa?". Itu mungkin sudah kesepuluh kali ia melontarkan pertanyaan yang sama, mungkin lebih banyak dari rokok yang telah ia bakar, entahlah, aku sudah menyerah menghitung keduanya.

Dan karena sebelum-sebelumnya jawabanku terus ia sanggah, kali ini pertanyaan itu kubiarkan menguap saja bersama asap rokoknya. Retoris, mungkin ia tidak sadar. Aku hanya menatapnya dengan segala empati yang masih kumiliki. Kemudian benar saja, ia kembali berbicara dan mengeluh lagi. Cerita yang telah ia ceritakan berkali-kali dengan frase-frase berbeda, yang sialnya buatku jadi hafal lebih dari materi-materi kuliah yang akan keluar di ujian lusa.

He reminds me a lot of a broken heart.

Kekalutan itu, racauan itu, dan kelelahan-kelelahan itu. Familiar.

Lucu bagaimana kau tidak perlu benar-benar patah hati untuk merasakan sakitnya; cukup pernah merasakannya sekali (yang sakit sekali), get over it, kemudian diminta berkaca pada rasa orang lain. Tiba-tiba kamu ingat tentang segala hal yang pernah menghantuimu dan menguasaimu sampai terasa di tengkukmu.

Kemudian aku tetap diam saja selama ia terus meracau. Bukankah tidak pernah ada yang tepat jika kamu berhadapan dengan orang yang sedang dikuasai oleh cinta, baik berbunga-bunga karenanya atau malah hancur dan lebam karenanya? Aku hanya akan mendengar semua keluh kesahnya, sampai ia temukan jalan keluar di tengah sumpah serapahnya -sebuah alasan untuk berhenti and letting go. Then again, isn't broken heart is a state of mind? Kamu cuma perlu berhenti membiarkan dirimu terus kembali ke sakit yang sama.

Nothing cures you from a broken heart, but your own self.


Comments

Popular posts from this blog

Album Reviews [Combo Pack]

I'm back on the deck, hurrah! I'm so missing myself writing a proper readable post, the less-curhat less-sok-poetic post, even 'tho I'm not sure people are even into my music shits...but it feels good to be back on the deck!(?) These are my reviews of not-so-new-released albums that I listen to (not so) recently, ujian and college stuffs really took that much of my time-_- I wish I can come out with fresh recommendations but this is just all I have, here it goes, enjoy! The Temper Trap -  Acoustic Sessions EP Sepertinya The Temper Trap berhasil menemukan formula untuk menelurkan album yang flawless dan sangat pas: make it an EP (nggak sesimpel single dan nggak sepanjang LP) consists of six acoustic version of their best songs, here's when things couldn't go wrong. Sewaktu jaman intensif Inten, kerjaan gue kalo di rumah emang suka curi-curi waktu buat hal nggak penting yang bahkan di waktu luang aja nggak pernah gue lakuin, kayak randomly buka iTunes dan me...

Baby Blue - King Krule (Day 1 - Song with color on the title)

Meskipun album 6 Feet Beneath The Moon udah di- release dari tahun 2013, di hidup gue Baby Blue malah jadi soundtrack jaman-jaman ngerjain TA, lebih tepatnya setelah geng wisuda April udah pada cabut.   Bulan-bulan Maret-Juni 2018 adalah masa transisi gue mencari teman buat ngerjain TA bareng karena teman-teman yang biasa coffee shop hopping buat ngerjain TA bareng lulusnya April semua hiks. Di masa-masa itu lah diperkenalkan Patih sama the luxury of berproduktif di Grind Joe ( coffee shop di bawah hotel Moxy): sepi, kursi ergonomis, pencahayaan oke banget, kopi enak, adem (kadang terlalu dingin), internet decent , dan yang terpenting playlist -nya bagus! Playlist bagus yang dimaksud adalah lagu-lagu chill lo-fi hiphop yang sangatlah hyped pada masa tersebut; Mac Ayres, FKG, Honne, Tom Misch dkk - surprisingly emang cocok banget buat backsound produktif. Kemudian karena playlist di Grind Joe lama-lama terasa terlalu berulang, gue berinisiatif membuat extended playlist -nya...

There Was No Funeral

June 25th 2024 They took the greatest love of my life away from me, but there was no funeral. They bathed and cleaned her corpse, and all I could think about was if they had took her lash extensions out. They buried her, but I stayed in the car. People cried, but no one hugged me, all that I had was my hand being held by my brother as we drove behind the hearse, Neil Young’s Harvest Moon was playing. I was already isolated for 2 weeks and thought that I would be rewarded by her embrace once it was all over. But there was none of it, it was pain and more pain and more pain. Only after 2 years I could finally cried it all out in somebody’s embrace, didn’t even realized how much I needed to let it all out —how badly I needed to be embraced. Because by the first year, the longing had eaten my insides little by little until there was almost nothing left of me. I don’t want to hold on to this pain forever, even if this pain is the only way I can keep my love for her alive. Because I’m done h...
I never concidered about dying this much until today. And no, this is not a suicidal note. Well not exactly... I don't know but the pain of living is just so unbearable. I wanna go back to the non-existance. I give people pain so much I let my parents down too much now. This is the point where I don't even know if my precense would do anyone any good, and I don't even know which is better to the world: the pain from me leaving or the  trouble I made.
You called me just so you can take out your anger out of your chest. And it still hurts, the fact that I couldn’t ease your anger, I could never did. With all the hatred and resentment in your eyes, it finally hits me, really really hard, realizing that nobody could ever comfort you -not even me, not even once. It hurts much more.

This, wasn't It

"Kalo gitu nggak ada lagi yang perlu dibicarain." Bengong. Asli. Kalo kata-kata bisa membunuh, mungin sekarang gue udah tinggal nama. Oke lebay... Mungkin paling banter sekarang gue cuma butuh transfursi darah. Oke tetep lebay. Intinya, kalimat yang terlontar dingin itu sukses bikin gue lemes, kuping panas, jantung minta lompat keluar, dan otak meronta. Gue bukan abis berantem sama cowok gue since I don't have one wakaka, atau berantem sama bokap nyokap. Yang abis gue lakuin adalah wawancara, seperti yang gue bilang di postingan sebelumnya. Hari ini di mulai dengan baik. Sarapan oatmeal pake pisang, wearing my fave shirt, fave watch, fave bracelet, dan Speed of Sound muncul di radio pagi ini. Gue nunggu giliran selama dua jam lebih dengan kalem dan sedikit nervous. Tapi pas klimaks...wawancara selesai gitu aja setelah si pewawancara denger gue tanggal 25-28 liburan.... Gue tau gue cengeng, satu sekolah juga tau. Tapi udah lama gue nggak ngerasain sekecewa ini dan s...