Skip to main content

Life Reminder

One of my biggest weakness is probably this; kapan pun gue gadag dan senganggur itu gue pasti suka bengong, pikiran gue hobinya merenungi tons of things yang seharusnya nggak perlu direnungi, yang selalu pada akhirnya berlabuh ke more and more insecurities. I have this spacing out as an issue in my daily life, I guess... Masalah dari perenungan itu yang masih mengganggu gue lagi-lagi seputaran ini:


Some of my friends and families will probably only roll their eyes because I still can't get over this hahaha.

Pentrigger utamanya gini, jadi kemaren tiba-tiba dapet kabar kalo salah satu temen gue mau ngedrop ITB setelah setaun TPB ini demi banting setir dan nurutin passion dia di fotografi, jadi ya dia semacam sekolah fashion photography di only-God-knows-where, intinya pokoknya gitu deh dia memutuskan buat hidup kedepannya memperjuangkan passion dia. It dropped my jaw, literary. "Gila ini orang berani banget" "Ini ortunya kok bisa ngasih" dst tapi yang paling penting gue sangat sangat salut sama dia dan.....sangat sangat iri. Iri gimana dia dengan beraninya dan dengan pertimbangan-pertimbangan yang pasti banyak banget pada akhirnya memilih mengorbankan ego-titel ST-dan sebagainya demi passion dia, meanwhile gue sejujurnya kadang masih berada di tempat yang salah.

It hit me pretty bad actually, kepikiran mulu jadinya lagi-lagi tentang gue dan cita-cita ga kesampean gue buat jadi jurnalis atau bahkan sekedar penulis. I even kinda stop writing since...God gue lupa kapan terakhir gue menghasilkan tulisan yang proper, kayaknya jaman-jaman kelas 3 awal kemudian berhenti. Dulu pas jaman sbmptn gue masih sempet bikin flash fiction, tapi sekarang ngga sama sekali. I hate how my life bailed on my old self. Bahkan menyelesaikan draft-draft blog gue aja jadi susah, satu-satunya tempat gue masih aktif nulis cuma jurnal gue (or diary kalo kata anak-anak kosan), which is pretty lame.

Yaudah saking insecurenya kemaren gue sampe nanya di ask.fm/alkupra --accnya Alex Kusumapradja, senior editor NYLON Indonesia yang dengan sangat baiknya dijawab dengan jawaban yang sangat baik pula.

ini thread aslinya tapi gue males ngescreenshot: http://ask.fm/Alkupra/answer/113535642802

I always imagined myself to work on a magazine just like where you are ryt now. But parents and life bring me here instead, sekarang aku kuliah di FTI ITB haha. Any advice on keeping up with my own passion (which is writing) while I'm stuck in a totally different path?  tisya miranda

Keep on writing.
Untuk menulis kamu sama sekali gak perlu menempuh ilmu Jurnalistik atau Sastra. Asalkan jangan pernah membiarkan diri kamu lupa bagaimana asiknya membaca dan menulis.
Dewi Lestari? Hubungan Internasional
Ika Natassa? Ekonomi Akuntansi
Andrea Hirata? Ekonomi
Marga T? Kedokteran
Leila Chudori? Political Science
Mereka semua penulis yang berasal dari berbagai latar pendidikan. Tak hanya bisa mempertahankan passion menulis mereka, mereka bahkan memasukkan berbagai unsur dari background pendidikan mereka ke dalam tulisan mereka dan hal itu memberi warna yang khas bagi karya-karya mereka.








.
So relieving right hahaha. Sebenernya dari dulu bapak gue udah bilang meski dengan gayanya yang ngomel-ngomel "kamu tuh ya dibilangin kalo nulis doang mah sambil ngapain aja juga bisa!" terus gue misuh-misuh biasanya karena ngerasa ga dianggap serius, tapi ya in delicate way si Alex pointed out the same thing. Gue nggak seharusnya berhenti menulis, dimanapun gue sekarang. 

Kata-kata yang paling terngiang-ngiang dari jawaban dia itu bagian ini: "Asalkan jangan pernah membiarkan diri kamu lupa bagaimana asiknya membaca dan menulis."

I got slapped by words.

Itu dia yang jadi masalah gue, tepat pada kalimat itu. I let myself neglect all these things about writing and reading. Satu-satunya usaha gue buat tetep baca ya cuma rereading the same poems from Chairil's Hujan Bulan Juni, yang sifatnya cuma sebagai pengingat kecintaan gue dengan kata-kata, but I know it won't get me anywhere. It will take time but I guess I need to start to get back on writing before that part of me shut down completely. Dibilang kurang waktu sebenernya nggak terlalu, ya buktinya pas libur gini gue cuma bengong sama main hp doang... The biggest enemy is my mager self hahaha. Ya meskipun bentar lagi diklat jadi berarti semua energi yang on fire tentang menulis ini tetep harus disimpen sampe awal Juli... *antiklimaks*

Di akhir postnya si Alex ngasih ini:
 

Well then I should remind myself to it more often and also start to work my ass off to get myself on track. YEAHHH.

Comments

Popular posts from this blog

Album Reviews [Combo Pack]

I'm back on the deck, hurrah! I'm so missing myself writing a proper readable post, the less-curhat less-sok-poetic post, even 'tho I'm not sure people are even into my music shits...but it feels good to be back on the deck!(?) These are my reviews of not-so-new-released albums that I listen to (not so) recently, ujian and college stuffs really took that much of my time-_- I wish I can come out with fresh recommendations but this is just all I have, here it goes, enjoy! The Temper Trap -  Acoustic Sessions EP Sepertinya The Temper Trap berhasil menemukan formula untuk menelurkan album yang flawless dan sangat pas: make it an EP (nggak sesimpel single dan nggak sepanjang LP) consists of six acoustic version of their best songs, here's when things couldn't go wrong. Sewaktu jaman intensif Inten, kerjaan gue kalo di rumah emang suka curi-curi waktu buat hal nggak penting yang bahkan di waktu luang aja nggak pernah gue lakuin, kayak randomly buka iTunes dan me...

Baby Blue - King Krule (Day 1 - Song with color on the title)

Meskipun album 6 Feet Beneath The Moon udah di- release dari tahun 2013, di hidup gue Baby Blue malah jadi soundtrack jaman-jaman ngerjain TA, lebih tepatnya setelah geng wisuda April udah pada cabut.   Bulan-bulan Maret-Juni 2018 adalah masa transisi gue mencari teman buat ngerjain TA bareng karena teman-teman yang biasa coffee shop hopping buat ngerjain TA bareng lulusnya April semua hiks. Di masa-masa itu lah diperkenalkan Patih sama the luxury of berproduktif di Grind Joe ( coffee shop di bawah hotel Moxy): sepi, kursi ergonomis, pencahayaan oke banget, kopi enak, adem (kadang terlalu dingin), internet decent , dan yang terpenting playlist -nya bagus! Playlist bagus yang dimaksud adalah lagu-lagu chill lo-fi hiphop yang sangatlah hyped pada masa tersebut; Mac Ayres, FKG, Honne, Tom Misch dkk - surprisingly emang cocok banget buat backsound produktif. Kemudian karena playlist di Grind Joe lama-lama terasa terlalu berulang, gue berinisiatif membuat extended playlist -nya...

There Was No Funeral

June 25th 2024 They took the greatest love of my life away from me, but there was no funeral. They bathed and cleaned her corpse, and all I could think about was if they had took her lash extensions out. They buried her, but I stayed in the car. People cried, but no one hugged me, all that I had was my hand being held by my brother as we drove behind the hearse, Neil Young’s Harvest Moon was playing. I was already isolated for 2 weeks and thought that I would be rewarded by her embrace once it was all over. But there was none of it, it was pain and more pain and more pain. Only after 2 years I could finally cried it all out in somebody’s embrace, didn’t even realized how much I needed to let it all out —how badly I needed to be embraced. Because by the first year, the longing had eaten my insides little by little until there was almost nothing left of me. I don’t want to hold on to this pain forever, even if this pain is the only way I can keep my love for her alive. Because I’m done h...
I never concidered about dying this much until today. And no, this is not a suicidal note. Well not exactly... I don't know but the pain of living is just so unbearable. I wanna go back to the non-existance. I give people pain so much I let my parents down too much now. This is the point where I don't even know if my precense would do anyone any good, and I don't even know which is better to the world: the pain from me leaving or the  trouble I made.
You called me just so you can take out your anger out of your chest. And it still hurts, the fact that I couldn’t ease your anger, I could never did. With all the hatred and resentment in your eyes, it finally hits me, really really hard, realizing that nobody could ever comfort you -not even me, not even once. It hurts much more.

This, wasn't It

"Kalo gitu nggak ada lagi yang perlu dibicarain." Bengong. Asli. Kalo kata-kata bisa membunuh, mungin sekarang gue udah tinggal nama. Oke lebay... Mungkin paling banter sekarang gue cuma butuh transfursi darah. Oke tetep lebay. Intinya, kalimat yang terlontar dingin itu sukses bikin gue lemes, kuping panas, jantung minta lompat keluar, dan otak meronta. Gue bukan abis berantem sama cowok gue since I don't have one wakaka, atau berantem sama bokap nyokap. Yang abis gue lakuin adalah wawancara, seperti yang gue bilang di postingan sebelumnya. Hari ini di mulai dengan baik. Sarapan oatmeal pake pisang, wearing my fave shirt, fave watch, fave bracelet, dan Speed of Sound muncul di radio pagi ini. Gue nunggu giliran selama dua jam lebih dengan kalem dan sedikit nervous. Tapi pas klimaks...wawancara selesai gitu aja setelah si pewawancara denger gue tanggal 25-28 liburan.... Gue tau gue cengeng, satu sekolah juga tau. Tapi udah lama gue nggak ngerasain sekecewa ini dan s...