Skip to main content

Lucid Dream

Aku tidak terlalu ingat tepatnya di mana, yang jelas atmosfernya sejuk, sejuk yang mengerikan, yang kesejukkannya seakan menusuk rusuk dan membuat bergidik. Cahayanya tidak terang, cenderung redup, namun cukup jelas untuk melihat matanya yang menatap sayu.

"Would you," ia menghirup sisa-sisa oksigen dan keberanian yang tersisa di udara, "fall out of love?"

Dia mati-matian tetap menatap tepat di kedua mataku, padahal aku tau butuh lebih dari keberanian untuk melontarkan kalimat itu setelah sedari tadi yang ia lakukan cuma diam, dan sibuk mencari entah apa pada dirinya sendiri. Pembenaran, mungkin.

Detik itu jantungku melewatkan sekali denyutan. Entah kenapa dari dulu aku percaya kalau semesta telah mempersiapkan hari seperti ini, skenario terburuk dari mimpi terburuk sekalipun. Tetap saja, kata-kata itu seakan merusak sistem koordinasi sampai-sampai aku yakin sebentar lagi aku bisa terkena stroke ringan. Yang paling parah, rasanya seperti dihajar bertubi-tubi di bagian solar plexus. Lidahku kelu, tenggorokku mendadak kering, dan tatapan sendu yang biasanya tajam itu tak bisa lagi kuatasi. Ah, aku selalu kalah dalam permainan ini.

"Kenapa?" Kata apalagi yang bisa ku lontarkan, kan?

Lagi-lagi dia kehilangan kata-kata. Aku yakin kami tertelan oleh kepedihan yang sama. "Maaf."

Dari ujung mata aku dapat memastikan sesekali ia melirik kearahku. Sepertinya was-was sisi melankolisku kumat lagi.

Aku tertawa, tawa tergetir yang pernah aku rasakan. Hanya tawa yang bisa menahanku -menahan kami- dari segala ketegangan yang menggerogoti kami dari dalam. "Sama aja kayak berhenti percaya Tuhan." Aku menatapnya sebentar kemudian kembali menerawang sudut kosong itu.

Ia gagal menanggapi leluconku, bungkam lagi, kemudian salah tingkah sendiri.

Tidak adil bagaimana dirinya yang malah terlihat lebih frustasi. Padahal bukan ia yang menyaksikan orang yang ia cintai tidak lagi sanggup menerima cinta yang sebegitu besarnya setelah sekian lama, dan malah merasa terbebani.

"Bukan berhenti percaya, tapi kamu berada dalam lubang yang salah."

"Kalau begitu sama seperti pindah agama?" Aku tertawa lagi.

Ia diam lagi. Nampaknya kamus kosakata tebal yang terprogram di otaknya sedang bermasalah.

Giliran aku yang mencari sisa-sisa keberanian di udara mencekam yang kami hirup ini. Otakku kehabisan padanan kata yang tidak menjadikan ia tersudut, lagi.

"As crazy as asking you to fall in love with me." Kali ini aku tidak tertawa, dan tidak satu pun diantara kami yang berani menatap satu sama lain.

Ia sedikit tersentak, aku saja tidak menyangka kata-kata itu bisa keluar dari mulutku sendiri. Kata yang selalu ada, dan bersembunyi meskipun kami berdua tau dimana tersembunyinya, hanya menunggu untuk muncul dengan sendirinya. Aku yakin perkataanku menyentil tepat di hatinya, sampai-sampai ia hanya bisa menunduk, seperti berpikir keras.

"Kamu...tidak pernah meminta." Ia masih tetap membuang pandangannya, hanya dalam mimpi buruk seperti ini laki-laki itu bisa menjadi seorang pecundang dihadapanku.

Kalimat itu lebih terdengar seperti lelucon, hanya saja tawaku benar-benar sudah habis. Yang benar saja... Entah sejak kapan pikiran kita berhenti beresonansi, dan percakapan ini menjadi percakapan tersulit dan terabsurd yang pernah kami rangkai.

"You know it never worked that way."

"Maaf." Dan lagi-lagi cuma kosakata itu yang tersedia di ujung lidahnya.

"Yang kita perlu cuma waktu untuk menjadikan segalanya tepat, kan?"

Diam-diam aku tau, saat semua ini berganti dengan realita, waktu sama sekali bukan jawaban yang kami cari.


.
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

Comments

Popular posts from this blog

UTS Special: Comforting Sounds Mixtape

Besok uts PRD dan sempet-sempetnya posting ginian meheheh gara-gara udah cabut demi belajar prd+mat tadi siang supaya malemnya bisa hearing, terus hearingnya di cancel *ba dum tss*. So let's just make it quick, and these are the list of songs you wish to hear in this most hectic period of the semester, enjoy! Happy (Pharrell Williams) Sulit untuk nggak senyum atau minimal nodding your head setiap kali denger lagu ini, yang selalu ngingetin kita untuk merasa senang ditambah campaign 24hoursofhappiness.com yang uber-awesome! Clap along if you know what happiness is to you :):) Með Suð Í Eyrum (Sigur Ros) Biarpun Sigur Ros udah ngeluarin dua album setelah album ini (yang bau-bau dark semua emang), sampai kapan pun lagu ini dan Gobbledigook bakal selalu jadi Sigur Ros' most cheerful songs. This song will always be your ice cream under the too shiny sun. This Too Shall Pass (OK Go) Pertemuan gue dengan lagu ini adalah waktu lagi ke mcd hampir tengah malem setelah ha...

Is this it?

Have you ever did a real bad thing in your life and live with a constant guilt afterwards, that you thought every single bad thing that keeps happening to you is just the way of universe punishing you -and that you deserve every tiny part of the pain? I can't really recall when was the first time I start living with this horrible mindset weighing me, but it does took me months of repetitive small unnecessary breakdowns to finally losing it last night and cry the shit out over The Strokes' Is This It -alone in my hotel room, thinking I am so done with universe punishing me and shit. I snapped last night and when I was finally too tired to continue crying, I thought to myself that maybe universe was actually never that evil, maybe I did this to myself, maybe the things that break me are just a product of my own belief -believing that I need to suffer from every cosmic surprise that went south from my own expectation and immediately perceiving it as another form of life punishme...