Skip to main content

The Kid Talks About Future

Udah cukup lama dari terakhir kali hari Jumat gue bener-bener merasa "Friday, I'm in Love", dan bukan, jelas bukan hari ini gue jatuh cinta sama hari Jumat. Oh man, this one is, Fri-i-feel-so-fucked-up-day.

Ini masalah yang nggak bisa gue curhatin ke siapa-siapa, even my mom or my bffs. Kenapa? Karena ini semua urusan gue, dan hanya masalah gue menyikapinya, lagian udah mutlak dan ngga bisa diubah. Gue bingung gimana curhatnya berhubung ada beberapa hal yang gaboleh gue cantumin jadi pasti abstrak-_- Sebenernya gue akan tetep curhat di sini meskipun pasti jadinya ga jelas HAHA. Bukan, bukan soal galau jurusan lagi kok, seisi dunia juga tau kalo itu.

Gue sekarang ada di batas antara masa sekarang dan masa depan, juga temen-temen gue yang lain. Agak-agak merinding ya setiap inget frase "nanti kalo aku udah gede..." dan "udah gede" means sekarang. Sekarang disaat lo mulai ngambil giant step dan membangun tumpukan domino masa depan dengan bener-bener mateng.

Dan di saat ini juga gue nyesel aksel sekali dan lahir satu bulan lebih cepet. If I did things in a normal way, gue masih punya satu tahun satu bulan lebih lama untuk mempersiapkan diri jadi dewasa mungkin (?) Gadeng.

Sejak kelas 3 ini, nggak henti-hentinya gue ngelamunin masa depan, dan ada 5-7 kemungkinan hidup yang berhasil gue telusuri dengan teori asal. Kemudian kata masa depan jadi nggak menakutkan lagi, cuma agak ngebingungin, tapi hari ini gue memutuskan buat fokus di salah satu langkah awal dan mengkombinasikan langkah-langkah berikutnya dengan seknario terbaik yang gue pengen.

Tapi sampai malam ini, barusan malah, gue baru disadarkan kalau rekonstruksi masa depan yang baru aja gue tanamkan di otak gue secara rapi itu mungkin selamanya cuma ada di otak. Mimpi dan cita-cita emang ada untuk dikejar, tapi kadang kita lupa hal-hal apa yang harus dikorbanin sama diri sendiri, dan jangan lupa keluarga. Gue ngga tau tahun ini gue akan ended up dimana, tapi sebagai awalan gue baru sadar kalau menjadi dewasa bukan lagi cuma memilih jalan dan cita-cita terbaik untuk diri sendiri. Mungkin, dewasa berarti harus belajar berkorban, berhenti egois, realistis, dan harus mengerti sikontol (kata acid panjangnya situasi kondisi dan toleransi). Dan mungkin gue harus mengerti kalau untuk menuju sesuatu harus bisa lewat jalan alternatif, yang nggak jadi beban di pihak mana pun selain diri gue sendiri.

Gue bukannya sok bijak ya guys, gue cuma butuh media buat menjawab pertanyaan-pertanyaan dari otak gue sendiri hehehe. Gue harus bisa mengaplikasikan hal-hal yand dari tadi gue bacotin secepatnya, karena gue masih jauh dari semua kata itu. Pendewasaan butuh waktu kan? :D

Yang gue tau pasti, membiarkan orang berkorban buat gue adalah hal terakhir yang akan gue pilih.
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

Comments

Popular posts from this blog

UTS Special: Comforting Sounds Mixtape

Besok uts PRD dan sempet-sempetnya posting ginian meheheh gara-gara udah cabut demi belajar prd+mat tadi siang supaya malemnya bisa hearing, terus hearingnya di cancel *ba dum tss*. So let's just make it quick, and these are the list of songs you wish to hear in this most hectic period of the semester, enjoy! Happy (Pharrell Williams) Sulit untuk nggak senyum atau minimal nodding your head setiap kali denger lagu ini, yang selalu ngingetin kita untuk merasa senang ditambah campaign 24hoursofhappiness.com yang uber-awesome! Clap along if you know what happiness is to you :):) Með Suð Í Eyrum (Sigur Ros) Biarpun Sigur Ros udah ngeluarin dua album setelah album ini (yang bau-bau dark semua emang), sampai kapan pun lagu ini dan Gobbledigook bakal selalu jadi Sigur Ros' most cheerful songs. This song will always be your ice cream under the too shiny sun. This Too Shall Pass (OK Go) Pertemuan gue dengan lagu ini adalah waktu lagi ke mcd hampir tengah malem setelah ha...

Is this it?

Have you ever did a real bad thing in your life and live with a constant guilt afterwards, that you thought every single bad thing that keeps happening to you is just the way of universe punishing you -and that you deserve every tiny part of the pain? I can't really recall when was the first time I start living with this horrible mindset weighing me, but it does took me months of repetitive small unnecessary breakdowns to finally losing it last night and cry the shit out over The Strokes' Is This It -alone in my hotel room, thinking I am so done with universe punishing me and shit. I snapped last night and when I was finally too tired to continue crying, I thought to myself that maybe universe was actually never that evil, maybe I did this to myself, maybe the things that break me are just a product of my own belief -believing that I need to suffer from every cosmic surprise that went south from my own expectation and immediately perceiving it as another form of life punishme...