Skip to main content

PTN, IPC, dan Mengisi "Pilihan Jurusan:..."

Gue yakin gue nggak akan lupa suatu kejadian kecil di pelajarannya Pak Edi waktu semester kemarin. Waktu itu lagi bahas suatu soal tentang sastra dan karena banyak yang salah, beliau memaklumi otak kami yang ke-ipa-an. "Lagian bapak berani jamin deh, satu delapan nih ya, atau minimal satu kelas ini aja deh, pasti ga ada yang cita-citanya jadi penulis kan?" Dan tanpa basa-basi gue tunjuk tangan, terus malu sendiri deh sama reflek alay gue wkwk. Kemudian beliau mulai agak takjub dan membahas ini di depan melas, oh and believe me I wasn't intend to caper that day hahaha seriously. Yang paling gue nggak akan lupa adalah waktu beliau bilang di akhir pelajaran,"Ya kalau emang minatnya di menulis, lanjutkan ya." *dengan tatapan kebapakan pak edi* Terus malu-malu najis deh gue.

Gue ada dalam fase mencari jawaban. Semakin sering nanya orang, semakin bingung lah gue. Yaiyalah wong temen-temen gue juga lagi menghadapi masalah yang kurang lebih sama. So basically I got no one to talk to. Gue udah coba istikharah berkali-kali dan gue yakin jawaban dari Allah udah ada dimana-mana, and I've looked everywhere, dan tetap belum tau sebetulnya petunjuk yang mana yang mengarahkan gue ke pilihan terbaik. Some told me to listen to my heart, dan ternyata gue kesulitan sendiri menginterpretasi hati gue sendiri. Jadi? Tetap clueless.

Hari-hari gue selalu dihantui oleh kolom pilihan jurusan yang berkali-kali disodorin di depan mata, atau hal-hal kecil kayak omongan pak edi, kertas berisi Life's Plan yang gue tulis semasa SMP, kompilasi pendapat orang-orang, dan bayangan gue terhadap masa depan itu sendiri.

Sebenernya apa yang selalu menahan gue dan kalo kata bokap gue membuat gue jadi rapuh (how I hate that word pa)? Let me tell you this, menulis tentang bagaimana masa depan gue secara rinci di atas secarik kertas di masa smp itu memang gampang karena pandangan gue akan masa depan waktu itu dan sekarang adalah 2 hal yang berbeda. Sekarang gue bener-bener pengen ngehindarin yang namanya salah jurudan dan nyesel seumur idup.

Yang gue tau gue nggak akan mau bethenti menulis. I'm not a great one but I'm definitely in love with it. Dulu gue mikir bakal jadi gubernur BI yang masa mudanya diisi dengan jadi freelancer, men, betapa absurdnya gagasan itu sekarang. Sekarang gue udah gamau jadi gubernur BI kok wkakak.

Seandainya gue memilih Ilmu Komunikasi dan jadi full time journalist mungkin pada awalnya gue bakal happy as fuck. Nah, itu atas dasar apa yang gue tau sekarang. Tapi gue tau se-tough apa jadi wartawan ngeliat bokap gue, dan one of my fave journalist who's one of the most passionate writer I've ever seen pernah ngetweet tentang bagaimana dia desperately pengen cari kerjaan yang gajinya di atas gaji dia sekarang. Dan gue stres liatnya. Gimana kalo at one point hidup gue ngga bisa lagi cuma bergantung sama passion gue sementara gue ngga tau apa-apa di bidang lain?

Sama halnya dengan kalo gue memperjuangkan masuk teknik, dan jadi engineering graduate, bisa ngga gue mempertahankan keinginan awal gue buat menjadi freelancer dan novelis disaat gue kerja di BP (aamiin)? Atau malah stagnansi di situ karena otak kreatif gue mati kebanyakan ngapalin rumus.

Man, gue emang a pessimist lil prick abis ya... And it kills me too much. Ini semua deadline pilihan udah menunggu di depan mata. Hafttt berat boy.

Kata Mikha sih kalo istikharah itu mungkin seharusnya udah milih suatu pilihan dan di-istikharahin biar tau itu sesuatu yang baik atau bathil buat kita. Malam ini insyaAllah gue bakal coba lagi in a whole different way dati sebelumnya.

Pokoknya God leads, jadi mungkin semua pilihan pada akhirnya balik ke.gue sendiri lagi (yaiyalah). Bismillah, masa depan yang terbaik udah nunggu gue di sana. Yoi religius abis kan gue.

Wasalam mau bikin vignette dulu

Comments

Popular posts from this blog

Album Reviews [Combo Pack]

I'm back on the deck, hurrah! I'm so missing myself writing a proper readable post, the less-curhat less-sok-poetic post, even 'tho I'm not sure people are even into my music shits...but it feels good to be back on the deck!(?) These are my reviews of not-so-new-released albums that I listen to (not so) recently, ujian and college stuffs really took that much of my time-_- I wish I can come out with fresh recommendations but this is just all I have, here it goes, enjoy! The Temper Trap -  Acoustic Sessions EP Sepertinya The Temper Trap berhasil menemukan formula untuk menelurkan album yang flawless dan sangat pas: make it an EP (nggak sesimpel single dan nggak sepanjang LP) consists of six acoustic version of their best songs, here's when things couldn't go wrong. Sewaktu jaman intensif Inten, kerjaan gue kalo di rumah emang suka curi-curi waktu buat hal nggak penting yang bahkan di waktu luang aja nggak pernah gue lakuin, kayak randomly buka iTunes dan me...

Baby Blue - King Krule (Day 1 - Song with color on the title)

Meskipun album 6 Feet Beneath The Moon udah di- release dari tahun 2013, di hidup gue Baby Blue malah jadi soundtrack jaman-jaman ngerjain TA, lebih tepatnya setelah geng wisuda April udah pada cabut.   Bulan-bulan Maret-Juni 2018 adalah masa transisi gue mencari teman buat ngerjain TA bareng karena teman-teman yang biasa coffee shop hopping buat ngerjain TA bareng lulusnya April semua hiks. Di masa-masa itu lah diperkenalkan Patih sama the luxury of berproduktif di Grind Joe ( coffee shop di bawah hotel Moxy): sepi, kursi ergonomis, pencahayaan oke banget, kopi enak, adem (kadang terlalu dingin), internet decent , dan yang terpenting playlist -nya bagus! Playlist bagus yang dimaksud adalah lagu-lagu chill lo-fi hiphop yang sangatlah hyped pada masa tersebut; Mac Ayres, FKG, Honne, Tom Misch dkk - surprisingly emang cocok banget buat backsound produktif. Kemudian karena playlist di Grind Joe lama-lama terasa terlalu berulang, gue berinisiatif membuat extended playlist -nya...

There Was No Funeral

June 25th 2024 They took the greatest love of my life away from me, but there was no funeral. They bathed and cleaned her corpse, and all I could think about was if they had took her lash extensions out. They buried her, but I stayed in the car. People cried, but no one hugged me, all that I had was my hand being held by my brother as we drove behind the hearse, Neil Young’s Harvest Moon was playing. I was already isolated for 2 weeks and thought that I would be rewarded by her embrace once it was all over. But there was none of it, it was pain and more pain and more pain. Only after 2 years I could finally cried it all out in somebody’s embrace, didn’t even realized how much I needed to let it all out —how badly I needed to be embraced. Because by the first year, the longing had eaten my insides little by little until there was almost nothing left of me. I don’t want to hold on to this pain forever, even if this pain is the only way I can keep my love for her alive. Because I’m done h...
I never concidered about dying this much until today. And no, this is not a suicidal note. Well not exactly... I don't know but the pain of living is just so unbearable. I wanna go back to the non-existance. I give people pain so much I let my parents down too much now. This is the point where I don't even know if my precense would do anyone any good, and I don't even know which is better to the world: the pain from me leaving or the  trouble I made.
You called me just so you can take out your anger out of your chest. And it still hurts, the fact that I couldn’t ease your anger, I could never did. With all the hatred and resentment in your eyes, it finally hits me, really really hard, realizing that nobody could ever comfort you -not even me, not even once. It hurts much more.

This, wasn't It

"Kalo gitu nggak ada lagi yang perlu dibicarain." Bengong. Asli. Kalo kata-kata bisa membunuh, mungin sekarang gue udah tinggal nama. Oke lebay... Mungkin paling banter sekarang gue cuma butuh transfursi darah. Oke tetep lebay. Intinya, kalimat yang terlontar dingin itu sukses bikin gue lemes, kuping panas, jantung minta lompat keluar, dan otak meronta. Gue bukan abis berantem sama cowok gue since I don't have one wakaka, atau berantem sama bokap nyokap. Yang abis gue lakuin adalah wawancara, seperti yang gue bilang di postingan sebelumnya. Hari ini di mulai dengan baik. Sarapan oatmeal pake pisang, wearing my fave shirt, fave watch, fave bracelet, dan Speed of Sound muncul di radio pagi ini. Gue nunggu giliran selama dua jam lebih dengan kalem dan sedikit nervous. Tapi pas klimaks...wawancara selesai gitu aja setelah si pewawancara denger gue tanggal 25-28 liburan.... Gue tau gue cengeng, satu sekolah juga tau. Tapi udah lama gue nggak ngerasain sekecewa ini dan s...